<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indie Book Corner</title>
	<atom:link href="http://bukuindie.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bukuindie.com</link>
	<description>Penerbit Buku Indie</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 12:19:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Lowongan Editor di Penerbit Indie Book Corner</title>
		<link>http://bukuindie.com/lowongan-editor-di-penerbit-indie-book-corner/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/lowongan-editor-di-penerbit-indie-book-corner/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Mar 2013 10:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Karier]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Indie Book Corner, sebuah penerbit yang berlokasi di Yogyakarta membutuhkan editor bahasa untuk buku dengan kualifikasi sebagai berikut: &#160; 1. Berdomisili di Yogyakarta 2. Mempunyai ketertarikan dan minat dalam dunia kepenulisan dan perbukuan 3. Pria atau Wanita dengan usia maksimal &#8230; <a href="http://bukuindie.com/lowongan-editor-di-penerbit-indie-book-corner/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/03/editor.jpg" width="240" />
		</p>
<p>Indie Book Corner, sebuah penerbit yang berlokasi di Yogyakarta membutuhkan editor bahasa untuk buku dengan kualifikasi sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Berdomisili di Yogyakarta</p>
<p>2. Mempunyai ketertarikan dan minat dalam dunia kepenulisan dan perbukuan</p>
<p>3. Pria atau Wanita dengan usia maksimal 25 tahun</p>
<p>4. Diutamakan lulusan S1 Bahasa atau Sastra Indonesia</p>
<p>5. Memiliki pengalaman dalam penulisan dan editing buku</p>
<p>6. Teliti, terampil serta sanggup untuk bekerja keras di dalam tim</p>
<p>7. Mau mempelajari hal-hal yang baru di luar latar belakang ilmunya</p>
<p>8. Sanggup untuk bekerja lembur guna menyelesaikan pekerjaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi silakan mengirim Surat lamaran, CV serta contoh naskah yang pernah diedit ke redaksi@bukuindie.com.</p>
<p>Lamaran Anda kami tunggu paling lambat tanggal 21 Maret 2013.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Indie Book Corner</p>
<p>Perum. Buana Asri Village D.4</p>
<p>Jl. Griya Taman Asri</p>
<p>Sleman, Yogyakarta</p>
<p>www.bukuindie.com || redaksi@bukuindie.com || @indiebookcorner || facebook.com/inibukuku</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/lowongan-editor-di-penerbit-indie-book-corner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemenang #KuisBuku &#8220;Cantik dan Seksi Itu&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://bukuindie.com/pemenang-kuisbuku-cantik-dan-seksi-itu/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/pemenang-kuisbuku-cantik-dan-seksi-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Mar 2013 13:43:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kuis Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Sabtu, 9 Maret 2013, Indie Book Corner bekerja sama dengan Bagustian Iskandar mengadakan #KuisiBuku di twitter. Peserta #KuisBuku diminta untuk menjelaskan wanita &#8220;seksi dan cantik&#8221; menurut perspektif mereka masing-masing. Pendapat mereka tentang &#8220;seksi dan cantik&#8221; dituangkan di blog &#8230; <a href="http://bukuindie.com/pemenang-kuisbuku-cantik-dan-seksi-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/03/cantik.jpg" width="240" />
		</p>
<div>Pada hari Sabtu, 9 Maret 2013, Indie Book Corner bekerja sama dengan <a href="https://twitter.com/ladangsandiwara">Bagustian Iskandar</a> mengadakan #KuisiBuku di twitter. Peserta #KuisBuku diminta untuk menjelaskan wanita &#8220;seksi dan cantik&#8221; menurut perspektif mereka masing-masing. Pendapat mereka tentang &#8220;seksi dan cantik&#8221; dituangkan di blog masing-masing dan dinilai oleh tim Indie Book Corner. Satu tulisan terbaik berhak mendapatkan buku <a href="http://bukuindie.com/book/522/">Sang Penyusup </a>karya Kesit Susilowati.</div>
<div></div>
<div>Dan, <a href="https://twitter.com/keykocecilia">Keyko</a>, pemilik blog http://pelukisrasa.blogspot.com/ keluar sebagai pemenang pada #KuisBuku ini. Inilah seksi dan cantik menurut Keyko. Silakan menikmati tulisannya!</div>
<div></div>
<div>_____________</div>
<div><strong>Cantik dan Seksi Itu&#8230;</strong></div>
<div></div>
<div>Banyak yang bilang bahwa cantik itu &#8220;sakit&#8221;.</div>
<div>Banyak yang bilang bahwa seksi itu &#8220;mengundang syahwat&#8221;.</div>
<div></div>
<div>Saya tak banyak membaca majalah yang ditujukan khusus untuk perempuan. Dari yang pernah saya baca, ‘cantik&#8217; yang diaminkan oleh banyak perempuan adalah berkulit putih mulus, berhidung mancung, bertubuh langsing, dan banyak lagi. Dan karena itu, kebanyakan perempuan menghabiskan banyak waktu di depan cermin.</div>
<div></div>
<div>Bagi saya, itu tak salah. Perempuan memang baiknya bisa melakukan apa saja yang dapat menyenangkan hati mereka. Saya sendiri senang &#8220;melukis&#8221; wajah dengan kuas <i>eyeliner</i> dan lipstik warna merah menyala. Saya ingin terlihat cantik? Tidak. Tapi saya rasa, semua perempuan &#8220;butuh&#8221; untuk merasa cantik.</div>
<div></div>
<div>Kamu, perempuan, tak harus menjadi langsing untuk lelaki sebut &#8220;cantik&#8221;. Cukup kamu menjaga apa yang telah Tuhan berikan. Nikmatnya sehat, suara yang lembut untuk bertutur kepada yang lebih tua ataupun suamimu, juga hati yang penuh kasih.</div>
<div></div>
<div>Klise memang, bila saya sebut cantik itu berasal dari hati. Tapi saya telah merasakan ketika saya berpikir saya cantik, saya terlihat cantik. Walau hidung saya tak mancung, tubuh saya tak tinggi, kulit saya tak putih, dan sebagainya. Bila kamu, perempuan, terus mengaminkan apa yang majalah atau isi kepala orang tunjukkan padamu, ya benar.. cantik itu &#8220;sakit&#8221;. Kamu sibuk menahan diri untuk tidak makan malam, tapi kamu lupa untuk berolahraga. Kamu sibuk berlama-lama di salon, tapi kamu lupa berlama-lama di dapur bersama ibu. Kamu sibuk memilih baju yang tepat untuk jenis bentuk tubuhmu, tapi kamu lupa untuk belajar menjahit kancing bajumu yang lepas.</div>
<div></div>
<div>Seksi? Bagi saya, perempuan tidak berhak merasa seksi. Seksi itu kewajiban bagi perempuan. Kamu, perempuan, tak perlu susah-susah membebani diri tentang apa itu &#8220;seksi&#8221; di benak orang-orang. Belahan dadamu tak harus ditujukkan. Liuk tubuh &#8220;jam pasir&#8221;-mu tak perlu dibungkus kain tanpa rongga.</div>
<div></div>
<div>Bisa jadi dibalik jari-jemarimu yang &#8220;bantet&#8221; itu tersimpan &#8220;bumbu&#8221; bagi masakan lezat yang kau buat.</div>
<div>Bisa jadi pahamu yang banyak <i>stretchmark</i>-nya itu adalah bantal terempuk bagi kepala suami dan anak-anakmu.</div>
<div>Bisa jadi perutmu yang beradu &#8220;mancung&#8221; dengan toket itu tersimpan rahim yang akan &#8220;membawa&#8221; calon pemimpin hadir ke dunia.</div>
<div></div>
<div>Kamu cantik dan seksi bila kamu adalah kamu, perempuan.</div>
<div></div>
<div>Catatan: Kalau kamu pikir saya narsis, ya benar. Saya mencintai diri saya. <img src='http://bukuindie.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/pemenang-kuisbuku-cantik-dan-seksi-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merasiokan Keabsurdan Masyarakat dalam &#8220;Lelaki yang Terus Mencari Sumbi&#8221;</title>
		<link>http://bukuindie.com/merasiokan-keabsurdan-masyarakat-dalam-lelaki-yang-terus-mencari-sumbi/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/merasiokan-keabsurdan-masyarakat-dalam-lelaki-yang-terus-mencari-sumbi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Mar 2013 11:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Hermawan Aksan]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Kepercayaan merupakan suatu keadaan psikologis ketika seseorang menganggap suatu premis benar. Bangunan dan benda aneh sering di anggap keramat oleh sebagian masyarakat, mengantarkan mereka pada penakdisan benda-benda kuno. Saat zaman penuh teknologi dengan menimbang keyakinan pada otak, ternyata di antara &#8230; <a href="http://bukuindie.com/merasiokan-keabsurdan-masyarakat-dalam-lelaki-yang-terus-mencari-sumbi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-depan-Lelaki-Sumbi.jpg" width="240" />
		</p>
<p><a href="http://bukuindie.com/book/lelaki-yang-terus-mencari-sumbi/cover-depan-lelaki-sumbi/" rel="attachment wp-att-190"><img alt="cover-depan-Lelaki-Sumbi" src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-depan-Lelaki-Sumbi.jpg" width="494" height="721" /></a></p>
<p>Kepercayaan merupakan suatu keadaan psikologis ketika seseorang menganggap suatu premis benar. Bangunan dan benda aneh sering di anggap keramat oleh sebagian masyarakat, mengantarkan mereka pada penakdisan benda-benda kuno.</p>
<p>Saat zaman penuh teknologi dengan menimbang keyakinan pada otak, ternyata di antara seantero Indonesia masih sangat banyak manusia yang menenggelamkan dirinya pada keyakinan dan keadaan dilema, sedangkan zaman menuntut sebuah perbedaan.</p>
<p>Sebagian di antara mereka percaya bahwa mengambil sesuatu dari bangunan tua semacam candi dapat berakibat pada bencana, jika mereka telah tidak atau sengaja berbuat salah, mereka akan bertimpuh dengan takzim sambil memohon berkah dan ampun dihadapan ruh para leluhur.</p>
<p>Tidak pada Hermawan Aksan yang mengusung cerpen berdasarkan rasio dan meninggalkan hal-hal absurd. Ia mencoba mematahkan prasangka negatif masyarakat melalui sebuah antologi cerpen, dengan 17 sajian cerita yang termuat sejak 1991 hingga 2007 di beberapa media.</p>
<p>Di dalamnya terdapat cerita tentang banjir di daerah candi citoke, bukan disebabkan oleh mereka yang kualat akibat mengambil satu atau dua ranting di sekitar candi, namun lagi-lagi sebab ulah tangan manusia yang kontinu mengeksploitasi alam tanpa adanya reboisasi. (hal.32)</p>
<p>Ia juga menyisipkan tentang sebuah perjalanan Sangkuriang dan Dewi Sumbi, dengan pengorbanan Sangkuriang dan segala yang di miliki, menunggu dan menghambakan diri menuju satu tujuan, yaitu cinta tak ternoda. Namun lagi-lagi dengan sebuah alasan dan ketetapan tuhan, mereka tak dapat bersama meski Sangkuriang telah berusaha tegar bertahun-tahun lamanya. (hal.91)</p>
<p>Dalam buku setebal 138 halaman, lelaki jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, menyuguhkan banyak cerita tak terduga, dengan alur dan plot yang begitu baik, dan tentu dengan ide-ide kreatifnya.</p>
<p>Buku ini sarat dengan pesan moral, juga kritikan kepada kita dan pemerintah agar selalu peduli kepada alam. Selain sangat cocok untuk bacaan ringan, buku ini begitu menghibur dan mencerdaskan Anda melalui kosakata yang mungkin belum Anda ketahui.<br />
<strong><br />
Peresensi adalah Walu’ Alqoyusyin, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAIINDO) Klender Jakarta Timur, yang aktif dalam forum kajian ketapang (FK2)</strong></p>
<p><strong>Judul : Lelaki Yang Terus Mencari Sumbi<br />
Penulis : Hermawan Aksan<br />
Penerbit : Indie Book Corner<br />
Cetakan : I, November 2011<br />
Tebal : 138 halaman</strong></p>
<p>Sumber: http://suar.okezone.com/read/2012/07/24/285/667505/large</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/merasiokan-keabsurdan-masyarakat-dalam-lelaki-yang-terus-mencari-sumbi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Menerbitkan Buku Bersama Indie Book Corner</title>
		<link>http://bukuindie.com/workshop-menerbitkan-buku-bersama-indie-book-corner/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/workshop-menerbitkan-buku-bersama-indie-book-corner/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 08:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Raden]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai bentuk dukungan untuk acara donasi dan Pameran Foto Esai “Di Balik Sosok Pak Raden”, Indie Book Corner selaku penerbit yang konsen melakukan kampanye-kampanye menulis dan menerbitkan buku secara mandiri akan menggelar acara “Workshop Menerbitkan Buku” di REDBERRIES Food and &#8230; <a href="http://bukuindie.com/workshop-menerbitkan-buku-bersama-indie-book-corner/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/04/logo1.png" width="240" />
		</p>
<p>Sebagai bentuk dukungan untuk acara donasi dan Pameran Foto Esai “Di Balik Sosok Pak Raden”, Indie Book Corner selaku penerbit yang konsen melakukan kampanye-kampanye menulis dan menerbitkan buku secara mandiri akan menggelar acara <b>“Workshop Menerbitkan Buku”</b> di <i>REDBERRIES Food and Folks</i>, Jl. Brajajaya No. 1 Sleman,Yogyakarta (timur beringin Condong Catur). Acara ini akan diisi oleh Irwan Bajang, Pemimpin Redaksi Indie Book Corner dan tanpa biaya alias gratis!</p>
<p>Dalam “Workshop Menerbitkan Buku” ini, Irwan Bajang akan membeberkan bagaimana pengalamannya mendirikan Indie Book Corner dan apa saja hal yang perlu disiapkan oleh seseorang untuk menerbitkan bukunyasecara mandiri. Materi tersebut antara lain adalah: bagaimana buku dipersiapkan setelah selesai ditulis, bagaimana menyunting naskah, proofreading, layout, dan menyiapkan cover buku untuk dicetak utuh menjadi sebuah buku. Materi ini juga akan membahas bagaimana metode distribusi, baik yang banyak diketahui orang hingga jalur-jalur alternatif yang tidak banyak dilakukan penulis atau penerbit.</p>
<p>Jika kamu adalah penulis dan ingin menerbitkan karya, atau kamu adalah orang yang merasa punya ketertarikan besar pada dunia perbukuan, media dan publikasi, maka acara ini wajib kalian hadiri.</p>
<p>Acara ini akan diadakan pada Sabtu, 2 Maret 2013 pukul 19.00 WIB. Silakan datang dan ajak siapa saja. Karena lokasi terbatas, mohon konfirmasi kehadiran kalian melalui akun twitter @indiebookcorner.</p>
<p>Sampai jumpa di lokasi acara! TERBITKAN SENDIRI BUKUMU!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/workshop-menerbitkan-buku-bersama-indie-book-corner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Fotografi, Di Balik Sosok Pak Raden</title>
		<link>http://bukuindie.com/pameran-fotografi-di-balik-sosok-pak-raden/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/pameran-fotografi-di-balik-sosok-pak-raden/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2013 02:41:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Raden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[Pak Raden adalah sosok multitalenta yang telah dikenal banyak orang di Indonesia. Di Tahun-tahun 90-an Pak Raden menjadi ikon penting dalam dunia hiburan dan pendidikan anak-anak generasi itu. Metode pendidikan lewat mendongeng, menggambar dan boneka &#8220;Si Unyil&#8221; telah menjadi metode &#8230; <a href="http://bukuindie.com/pameran-fotografi-di-balik-sosok-pak-raden/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/02/PAK-RADEN.jpg" width="240" />
		</p>
<p>Pak Raden adalah sosok multitalenta yang telah dikenal banyak orang di Indonesia. Di Tahun-tahun 90-an Pak Raden menjadi ikon penting dalam dunia hiburan dan pendidikan anak-anak generasi itu. Metode pendidikan lewat mendongeng, menggambar dan boneka &#8220;Si Unyil&#8221; telah menjadi metode yang bagus dan sukses untuk membungkus edukasi dan hiburan dalam satu wadah.</p>
<p>Saat ini, tak banyak anak-anak yang tahu siapa Pak Raden. Serangan budaya luar dan produk hiburan seperti film kartun dan beberapa hiburan impor tidak banyak memberi pilihan mereka untuk mengenal tokoh lokal, atau hiburan dengan tema lokal yang dekat dengan keseharian. Pak Raden masih seperti dulu, mengabdikan bakat, talenta dan waktunya untuk hal-hal yang bersifat pendidikan dan hiburan. Meskipun tak banyak ruang baru yang membuka diri untuk pengabdiannya yang tulus.</p>
<p>Sebagai wujud dari apresiasi akan karya Pak Raden dan kerinduan akannya, tanggal 24 Februari 2013 sampai tanggal 3 Maret 2013 akan diadakan Pameran Foto Esai mengusung tema &#8220;Di Balik Sosok Pak Raden&#8221;, Acara ini dirancang dan diadakan oleh enam orang fotografer yang selama ini ikut mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Pak Raden.  Enam fotografer tersebut anatara lain adalah Arbain Rambey, Rinda Sri Wulandari, NH Yanti, Husni Al-ghifari, Toto Santiko Budi, dan Nur Anis Setiawan.</p>
<p>Acara yang mengusung tema Di Balik Sosok Pak Raden ini akan diselengggarakan di REDBERRIES foodandfolks Jl. Brajajaya No. 1, Yogyakarta. Pembukaan akan dilakukan pada pukul 19.00 WIB.</p>
<p>Selama delapan hari, acara fotografi ini juga akan melibatkan beberapa pelaku seni di Yogyakarta. Akan diadakan beberapa workshop gartis, seperti paper craft, fotografi, memasak, melukis, membuat minuman, work shop melukis, work shop menerbitkan buku juga hiburan musik dan stand up comedy.</p>
<p>Pameran foto esai ini diadakan untuk melihat keseharian di balik sosok Pak Raden. Selain pameran dan workshop, dalam acara ini juga akan diadakan pelelangan kaos dan foto. Semua hasil acara ini akan disumbangkan kepada Pak Raden sebagi bentuk support dan apresisasi baginya agar tetap berkarya.Semua rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan gratis.</p>
<p>Untuk informasi dan pendaftaran acara workshop, peserta bisa menyimak twitter dengan tagar #DiBalikSososkPakRaden atau di website <a href="http://www.bukuindie.com/">www.bukuindie.com</a>, contact person untuk acara ini 087722212921 (Wulan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/pameran-fotografi-di-balik-sosok-pak-raden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger</title>
		<link>http://bukuindie.com/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 18:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[Sciptozoid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=773</guid>
		<description><![CDATA[Penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata memutuskan untuk membawa kasus tudingan pengamat perbukuan Damar Juniarto ke pengadilan. Andrea merasa integritasnya sebagai penulis terganggu. &#8220;Saya memutuskan untuk mencari keadilan atas tudingan yang sangat tidak benar yang ditujukan oleh Damar Juniarto kepada &#8230; <a href="http://bukuindie.com/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata memutuskan untuk membawa kasus tudingan pengamat perbukuan Damar Juniarto ke pengadilan. Andrea merasa integritasnya sebagai penulis terganggu.</p>
<p>&#8220;Saya memutuskan untuk mencari keadilan atas tudingan yang sangat tidak benar yang ditujukan oleh Damar Juniarto kepada saya melalui tulisannya di Kompasiana dengan judul &#8216;Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya&#8217; tertanggal 13 Februari 2013,&#8221; ujar Andrea di Jakarta, Selasa.</p>
<p>Menurut Andrea, seorang penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu bersifat sangat prinsip.</p>
<p>Selain itu, dia mendapat banyak sekali saran dari para penggemar Laskar Pelangi bahkan dari anak-anak sekolah, rekan-rekan sesama penulis, guru-guru yang terinspirasi oleh Laskar Pelangi, dan dari para tokoh seperti Buya Syafii Maarif dan Yusril Ihza Mahendra untuk berbuat sesuatu terhadap tudingan yang memberi kesan yang sangat keliru atas segala upayanya mengenalkan karya buku Indonesia pada dunia.</p>
<p>Sampai saat ini, kata dia, kontrak penerbitan Laskar Pelangi telah mencapai 78 negara dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa asing melalui penerbit-penerbit terkemuka seperti FSG, Random House, Hanser Berlin, Mercure de France, Atlas Contact, Penguin dan Harper Collins.</p>
<p>&#8220;Hal itu memberi dampak yang amat positif bagi nama Indonesia dalam peta buku internasional. Apa yang dilakukan oleh Damar Juniarto sangat melemahkan upaya keras saya untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia melalui dunia buku dan tudingannya bisa menjadi preseden yang buruk bagi para penulis Indonesia lainnya yang tengah bersusah-payah untuk menerbitkan buku di luar negeri,&#8221; kata dia.</p>
<p>Atas nama para penggemar Laskar Pelangi di seluruh Tanah Air, profesi maupun karyanya, Andrea akan membela diri dengan membawa permasalahan tersebut ke ranah hukum.</p>
<p>Sebelumnya, Damar Juniarto mengatakan bahwa Laskar Pelangi edisi Amerika sesungguhnya diterbitkan oleh Sarah Crichton Books, bukan oleh FSG, New York.</p>
<p>&#8220;Sedangkan selama ini saya selalu mengaku Laskar Pelangi edisi Amerika diterbitkan oleh FSG dan tidak pernah menyebut Sarah Crichton Books. Dikesankan oleh Damar bahwa FSG hanya menerbitkan buku sastra kelas tinggi sehingga Laskar Pelangi tak pantas,&#8221; kata Andrea melanjutkan.</p>
<p>Tudingan ini bukan hanya membuat Andrea terzalimi karena pembaca akan menuduhnya telah melakukan kebohongan publik, namun Damar Juniarto telah pula melecehkan Sarah Crichton Books dan begitu banyak penulis bermutu yang telah diterbitkan Sarah Crichton Books.</p>
<p>Dengan pengetahuan yang kurang memadai tentang sistem penerbitan buku internasional, lanjutnya, Damar Juniarto telah menuding dengan sangat keliru. Kenyataannya adalah Saya tidak punya kontrak penerbitan dengan Sarah Crichton Books.</p>
<p>&#8220;Kontrak penerbitan saya (author contract) hanya dengan FSG. FSG lah penerbit Laskar Pelangi edisi Amerika. Sedangkan Sarah Crichton adalah editor saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Karena kontribusi penyuntingan itu Sarah Crichton Books mendapat &#8220;Honor Imprint&#8221; untuk dicantumkan sebagai penerbit dengan nama berdampingan dengan nama FSG di beberapa publikasi Laskar Pelangi edisi Amerika.</p>
<p>&#8220;Saya tidak boleh menyebut Sarah Crichton Books sebagai penerbit buku saya karena memang bukan. Cercaan dari banyak orang muncul akibat dari tudingan Damar Julianto yang menyesatkan itu,&#8221; katanya.</p>
<div id="container_6_4"> sumber berita: http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51239affba5e9/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger</div>
<div id="container_6_5"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Penulis Indonesia Bisa! Menyapa Penulis dan Penerbit Indie</title>
		<link>http://bukuindie.com/740/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/740/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 03:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[Suyatna Pamungkas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Suyatna Pamungkas &#8220;Tanpa sastra manusia hanyalah hewan yang pandai&#8221; ~Pramoedya Ananta Toer Penolakan yang dilakukan oleh penerbit-penerbit besar mengundang berbagai reaksi para penulis muda (sebutan untuk penulis yang baru mulai menekuni dunia tulis-menulis). Dan akhirnya harus dibenarkan bahwa akan &#8230; <a href="http://bukuindie.com/740/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/01/nanang-suryadi.jpg" width="240" />
		</p>
<p>Oleh Suyatna Pamungkas</p>
<p>&#8220;Tanpa sastra manusia hanyalah hewan yang pandai&#8221; ~Pramoedya Ananta Toer</p>
<p>Penolakan yang dilakukan oleh penerbit-penerbit besar mengundang berbagai reaksi para penulis muda (sebutan untuk penulis yang baru mulai menekuni dunia tulis-menulis). Dan akhirnya harus dibenarkan bahwa akan selalu ada pemberontakan, ketika suatu keinginan dicekal. Sehinggalah cuaca penolakan naskah oleh penerbit besar dan terkecewakannya “penulis gagal” dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang-orang yang berjiwa entrepreneur. Dengan sangat cerdasnya para cerdik pandai ini menawarkan solusi atas permasalahan yang dihadapi penulis yang merasa dirinya termarjinalkan oleh penerbit besar. Mereka, para pendekar entrepreneurhisp ini, menawarkan obat sakit hati untuk para “penulis gagal” melalui sebuah jalan pintas, melalui proses penerbitan karya yang sangat merdeka, penerbitan yang tidak bertele-tele, penerbitan yang tidak pernah menolak naskah, penerbitan yang didasarkan pada korporasi untung sama untung. Inilah penerbitan buku secara indie.</p>
<p>Kata indie berasal dari kata bahasa Inggris independent ‘merdeka’ atau ‘sendiri’. Lalu kita mengenal berbagai karya seni yang sifatnya indie, ada film indie, lagu indie, bahkan sekarang muncul buku indie. Semua orang bisa menerbitkan buku, semua orang boleh mengajukan karyanya ke penerbit indie tanpa takut naskahnya ditolak. Semua karya pasti bisa terbit oleh penerbit indie. Sehingga dapat diprediksikan akan lahir begitu banyak buku dari berbagai penerbit indie. Kalau sudah berbicara kuantitas, kita tidak bisa lepas dari pembicaraan kualitas di satu sisi yang lain. Alih-alih penerbit besar selalu menerbitkan buku yang “berkualitas” dan prosesnya begitu panjang harus menembut otoritas redaktur, ternyata tidak jarang juga ditemukan karya yang kualitasnya buruk. Demikian halnya yang terjadi di penerbit indie, tidak semua karya yang diterbitkan secara indie buruk atau bisa dipandang sebelah mata. Tulisan karya Nanang Suryadi berjudul Biar! (Kumpulan Puisi, Indie Book Corner, 2011) masuk dalam sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award 2011. Penulis besar juga ada yang melakukan cara ini, sebutlah Dee, meskipun mengusung bendera penerbit indie namun penulis ini tidak mengesampingkan bobot kualitas karya yang diterbitkannya.</p>
<p>Memang yang perlu diingat adalah karya terbitan penerbit indie, jika harus diberi penilaian dari rank 1-10, akan terlihat sangat timpang. Ada buku yang kualitasnya sangat buruk, ada pula buku yang kualitasnya super baik. Tentu saja ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama dari proses kreatif si penulis. Motivasi dan tujuan menerbitkan buku menjadi salah satu faktor penyebabnya. Jika motivasi menerbitkan buku hanya sebatas ingin punya buku, tentu saja karya yang dihasilkan cenderung asal-asalan. Berbeda jika motivasinya adalah usaha aktualisasi diri melalui dunia perbukuan, secara setahap demi setahap dengan sendirinya penulis akan selalu memperbaiki kualitas tulisan. Beda tipis memang, beda tipis antara motivasi ingin memiliki buku dengan motivasi aktualisasi diri. Pernah saya jumpai sebuah buku terbitan penerbit indie namun kualitasnya sangat yahud, dari rank 1-10 saya berani memberikan rank 9. Saat saya tanyakan langsung kepada penulisnya langsung, mengapa karya sebagus itu diterbitkan di penerbit indie, jawabannya sangat simple: karena saya ingin punya buku untuk kenaikan pangkat saya. Saya tidak menanyakan lebih lanjut apa manfaat praktis dan hubungan dia memiliki buku dengan karir yang dimaksud.</p>
<p>Penerbit indie di Indonesia hadir dengan mengusung berbagai visi dan misi. Dari visi dan misi yang berbeda-beda ini penerbit pun memilki beragam penawaran pendanaan yang harus dikeluarkan oleh penulis. Ada yang dari 50 ribu, bahkan ada yang menyuguhkan paket profesional yang bernilai pada kisaran 15 juta. Paket-paket penerbitan ini akan mempengarungi: lama waktu pengerjaan buku, jumlah cetak, serta sistem pemasaran. Lama pengerjaan yang ditawarkan tiap-tiap penerbit indie berbeda, ada yang menawarkan satu minggu jadi, ada pula yang prosesnya hingga dua bulan. Biasanya penulis juga akan menerima bukti terbit berupa naskah bukunya, ini juga tergantung paket penerbitan yang diambil penulis. Pemasaran dilakukan secara online melalui jejaring sosial, blog, website. Ada juga yang sudah melalui toko buku-toko buku besar.</p>
<p>Menyimak perang penerbitan ini mengingatkan saya pada peperangan antara perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan perusahaan Air Minum Isi Ulang (AMIU). Secara kualitas, masyarakat kadung percaya Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), namun bagaimana jika persoalan yang terjadi adalah keberadaan AMDK dinilai terlalu mahal untuk sebagiaan golongan orang? Maka wajarlah cuaca ini dimanfaatkan kompetitor baru perusahaan AMDK, yakni perusahaan AMIU. Secara sporadis perusahaan-perusahaan air minum isi ulang membuat gebrakan, dimana-mana tumbuh sebagai pelayan masyarakan yang setia dengan kualitas yang tidak jauh berbeda namun tanpa menguras isi kantong.</p>
<p>Menarik untuk disimak, bagaimanakah nasib atau kelangsungan hidup kedua penerbit ini ke depan? Akankah keberadaan penerbit besar tergantikan oleh semangat penerbit dan penulis indie? Terlepas dari pembicaraan kualitas dan isu marjinalisasi penulis “gagal” versi penerbit besar, keberadaan penerbit dan penulis indie menghidupkan semangat kebaruan untuk mewarnai negeri ini dengan tradisi menulis. Ini bagus, ini mengidentifikasikan bahwa Indonesia juga bisa produktif, bisa menciptakan sesuatu, bisa berkreasi tanpa batas.</p>
<p>Barangkali solusi yang baik adalah kedua genre penerbit ini saling merangkul, sudah saatnya mengakhiri stigma negatif akan kehadiran penerbit dan penulis indie. Sudah saatnya juga menghentikan pemikiran yang mendewa-dewakan buku terbitan penerbit besar. Sebab sekali lagi, tidak semua karya yang diterbitkan secara indie minus kualitas. Sebaliknya, tidak semua terbitan penerbit besar mempunyai kualitas baik, meskipun telah melalui seleksi ketat sang redaktur. Satu yang pasti di sini, semua orang tanpa terkecuali kini bisa menerbitkan buku. Ayo terbitkan bukumu, ayo warnai Indonesia dengan tradisi literer. Ayo penulis Indonesia bisa!</p>
<p>Salam karya,</p>
<p><strong>Suyatna “Chiko” Pamungkas.</strong> <em>Founder and CEO President Of Indonesian Writers University.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/740/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat untuk Tuan Penyair</title>
		<link>http://bukuindie.com/surat-untuk-tuan-penyair/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/surat-untuk-tuan-penyair/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2013 17:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[penyair]]></category>
		<category><![CDATA[Pradewi Tri Chatami]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya. Saya &#8230; <a href="http://bukuindie.com/surat-untuk-tuan-penyair/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/01/pradewi.jpg" width="240" />
		</p>
<p>Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya.</p>
<p>Saya sedang malas menjadi penyair. Dulu, saya begitu bersemangat menjadi penyair, dan tidak bisa talak dengan puisi. Sekarang pun masih mencintai puisi, masih berusaha (dan tidak juga berhasil) menulis puisi, tapi, saya malas menghadiri pertemuan penyair. Bukan tidak mau bersilaturahmi, senang sekali rasanya bertemu penyair yang tadinya hanya bisa dikenal lewat karyanya, berdiskusi, membicarakan masa depan puisi. Hanya saja, pada pertemuan-pertemuan seperti itu, kerapkali ada semacam <em>unwanted attention.<br />
</em></p>
<p><em>Unwanted attention</em> macam apa? Kalau hanya kata-kata, tentu gampang, tinggal dibalas dengan kata-kata lagi. Syukur-syukur bisa bikin puisi. Tapi lebih dari itu saya merasa risih. Saya teringat dulu seorang penyair (no, bukan penyair ini yang memberi saya <em>unwanted attention</em>) pernah berpesan, “Nanti kalau sudah menikah, jangan sampai berhenti menulis puisi.” Saya menyanggupinya. Memangnya seburuk apa pernikahan, sampai-sampai menceraikan seorang penyair dari puisi. (yang mau curhat, silakan hubungi inbox, hehe.) <em>it’s the unwanted attention that makes me sick</em>. Lebih terganggu lagi ketika mengetahui ada banyak penyair perempuan yang mendapat <em>unwanted attention</em>.</p>
<p>Come on, men. Dunia kepenyairan barangkali memang penuh dengan laki-laki. Dan selalu saja terdengar keluhan kurangnya penyair perempuan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tapi ketika (calon) penyair perempuan datang, kenapa kami disambut dengan banyak <em>unwanted attention</em>? Oke, akan ada suara yang bilang bahwa “Apaan, sih, perempuannya juga mau, kok.” Are you sure? Reaaally sure? Bukan cuma kalian aja yang ke-GR-an gitu? Oh, well, kalau memang benar, selamat. Tapi kalau salah, <em>shit, men</em>, kalian berpotensi kehilangan penyair perempuan, atau jikapun tidak kehilangan, kalian memperkokoh patriarki. <em>Oh, yeah, you’re becomming part of the tyranny. Take that spotlight and goodbye.<br />
</em></p>
<p><em>And I’m not writing this based on some hearsays. Nope. </em>Saya lelah dan merasa di-bully dengan perhatian-perhatian yang tidak tertuju pada tulisan saya. Dan saya lelah mendengar hal-hal ini terjadi pada penyair perempuan lain. Kalaupun memang puisi saya demikian jelek, kan tinggal bilang, “Males, ah, ngomongin puisi kamu, abis puisi kamu jelek. Yuk, kita ngomongin kamu aja.” <em>There</em>, gitu aja kok repot? Kalo dibilang begitu, saya kan tinggal pergi dan nulis sendiri, edit tulisan sendiri.</p>
<p>Saya juga cape mendengar nasihat dari beberapa kawan penyair laki-laki dan perempuan: “Ya gitu, che, memang banyak penyair yang genit, kamu hati-hati aja.” Uwooow, kenapa saya (dan penyair perempuan muda lain) yang harus berhati-hati? Mengapa tidak mereka saja yang menjaga sikap mereka? Atau lebih jauh: mengapa tidak ada nasihat pada penyair muda laki-laki untuk kelak tidak bersikap seperti senior mereka yang tidak patut dicontoh itu? Ada apa dengan dunia sastra ini hingga perlakuan-perlakuan menyebalkan seperti ini berlangsung berabad-abad?</p>
<p><em>Let me tell you this, peeps. </em>Satu: tidak adalah tidak, berhenti adalah berhenti. Sebagai penyair, kalian tentu lebih tahu, lebih dapat peka, lebih sensitif merasa penolakan paling tidak kentara sekalipun. Kalau kalian tidak tahu, wah, kasihan sekali. Bagaimana bisa merasakan penderitaan orang antah berantah dan menulis puisi yang baik jika ditolak perempuan di depan mata saja tidak merasa?</p>
<p>Dua. Jika perempuan itu sudah menolak, dan kalian sebenarnya tahu, tapi memilih pura-pura tidak mau tahu dan memanfaatkan kondisi kalian yang lebih superior (entah itu fisik, mental, intelektual maupun status), you’re a fucking bully. Penyair memang istimewa, tapi dalam posisi seperti itu, tidak ada bedanya dengan preman, dengan diktator, dengan manusia menyebalkan dan mnegerikan lainnya.</p>
<p>Tiga. Jika memang alasan kalian melakukan hal seperti ini untuk mendapat <em>thrill</em> agar bisa menulis lagi, <em>for fuck’s sake, read a book. Get a life.</em> Kalau hidup kalian membosankan dan enggan membaca, pergilah cari penghiburan yang tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak bisa, umm, gantung pena mungkin?</p>
<p>Empat. Jangan karena penyair perempuan tidak ada yang protes terbuka kalian merasa aman. Kalau ini berjalan terus, <em>i’ll find a way to put you behind bars, if i have to. Or you want me to tell your wives?<br />
</em></p>
<p>Udah segitu aja. Terserah mau ditanggepin apa. Dan untuk orang-orang yang merasa tulisan ini untuk mereka, saya akan mengutip Ucok Homicide: “Lebok, tah, anjing.”</p>
<p>Selamat Tahun Baru, panjang umur Puisi.</p>
<p>Kecup jauh dan salam jari tengah,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pradewi Tri Chatami, mantan calon penyair.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/surat-untuk-tuan-penyair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Cara Menerbitkan Buku</title>
		<link>http://bukuindie.com/729/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/729/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2013 17:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[Sidik Nugroho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[Sidik Nugroho* Zaman sudah berubah, menerbitkan buku tidak lagi susah. Penerbit makin banyak bermunculan. Banyak orang dan kalangan berlomba-lomba menerbitkan buku. Komunitas-komunitas sastra menerbitkan antologi puisi atau cerpen. Para dosen menerbitkan buku-buku teks atau panduan bagi mahasiswa, sekalian menambah poin &#8230; <a href="http://bukuindie.com/729/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2013/01/sidik-nugroho.jpg" width="240" />
		</p>
<div>
<div>
<p>Sidik Nugroho*</p>
<p>Zaman sudah berubah, menerbitkan buku tidak lagi susah. Penerbit makin banyak bermunculan. Banyak orang dan kalangan berlomba-lomba menerbitkan buku. Komunitas-komunitas sastra menerbitkan antologi puisi atau cerpen. Para dosen menerbitkan buku-buku teks atau panduan bagi mahasiswa, sekalian menambah poin angka kreditnya. Para pembicara seminar menulis buku yang berisi materi-materi seminarnya, sekalian dijual saat mengadakan seminar di berbagai tempat.</p>
<p>Tulisan ini saya buat untuk memberikan gambaran tentang cara-cara menerbitkan buku &#8212; terlepas dari sampai sejauh mana sebuah buku bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Ada tiga cara yang saya kupas dalam tulisan ini. Dua di antara tiga cara yang akan saya sampaikan, saya rasa sudah cukup banyak dikenali dan dibahas &#8212; walau pembaca yang belum mengetahuinya mungkin juga ada. Cara ketiga yang bagi saya cukup menarik dan baru.</p>
<p><strong>Penerbitan Umum (Konvensional)</strong></p>
<p>Penerbitan ini adalah cara yang paling banyak ditempuh oleh penulis. Para penulis menyerahkan naskah pada penerbit, kemudian menunggu waktu selama beberapa minggu atau bulan untuk mendapatkan kepastian naskahnya layak terbit, tidak layak, atau perlu direvisi sebelum terbit. Tiap penerbit memiliki waktu yang berbeda dalam menilai naskah. Penerbit Gramedia Pustaka Utama biasanya menilai sebuah naskah selama 2 hingga 3 bulan. Penerbit Bhuana Ilmu Populer melakukannya selama 60 hari. Penerbit Elexmedia, Dolphin, atau Bentang Pustaka melakukannya dalam waktu yang lebih pendek, yakni sebulan.</p>
<p>Bila sebuah naskah dinyatakan layak terbit, biasanya penulis diajak bekerjasama oleh penerbit, dalam hal ini diwakili editor, untuk merapikan (mengedit) naskahnya, memberikan usul tentang kaver buku, dan beberapa hal lainnya seputar bentuk buku yang akan dicetak. Penulis juga akan menerima surat kontrak atau perjanjian tentang hasil yang diterimanya dari penjualan bukunya.</p>
<p>Ada hasil yang diberikan sekali saja, biasanya dikenal dengan istilah atau sistem beli putus. Hasil berupa uang ini diberikan penerbit kepada penulis saat bukunya sudah selesai dicetak dan siap dipasarkan. Salah satu penerbit yang sering melakukan beli putus ini adalah Diva Press. Jadi, lewat cara beli putus, dapat dikatakan bahwa penulis menjual naskahnya yang dibayar secara kontan oleh penerbit.</p>
<p>Ada juga hasil yang diberikan dalam bentuk atau sistem royalti. Royalti adalah hasil penjualan buku yang diberikan kepada penulis secara berkala &#8212; biasanya 6 bulan sekali. Tiap penerbit memiliki penghitungan royalti yang berbeda. Ada penerbit yang memberikan royalti 10 persen dari harga jual sebuah buku kepada penulis, ada yang cuma memberikan 8 persen.</p>
<p>Hal yang perlu diwaspadai oleh penulis adalah kecurangan penerbit dalam melaporkan jumlah naskah yang dicetak atau laku terjual. Saat sebuah penerbit memutuskan untuk menerbitkan sebuah naskah dan mencetaknya sekian ribu eksemplar, umumnya penulis tidak melihat proses itu secara langsung. Demikian pula dengan jumlah naskah yang laku, penulis hanya menerima laporannya dan kemudian mendapatkan royalti. Karena itulah, memilih penerbit yang terpercaya sangat penting.</p>
<p>Penerbitan konvensional juga membutuhkan kegigihan penulis agar naskahnya bisa diterima penerbit. Penerbit selalu mencari naskah yang laku dijual, itu intinya. Sebagus apa pun sebuah naskah menurut penulisnya, tapi bila menurut editor tidak layak jual, naskah akan tetap ditolak. Faktor-faktor dalam menilai sebuah naskah, apakah layak jual atau tidak, berbeda pada masing-masing penerbit.</p>
<p>Tapi, tidak semua naskah yang ditolak oleh sebuah penerbit itu buruk. Tidak sedikit editor yang salah menilai sebuah naskah. <em>Harry Potter dan Batu Bertuah</em> yang ditulis oleh J.K. Rowling pernah ditolak oleh 12 penerbit. Walaupun ada penolakan, cara menerbitkan buku ini disukai banyak penulis karena setelah naskah dinyatakan layak terbit, penulis banyak dibantu oleh penerbit dalam memasarkan naskahnya. Penulis tinggal tahu beres, mendapat hasil yang diberikan penerbit kepadanya.</p>
<p><strong>Penerbitan Indie (<em>Self Publish</em>)</strong></p>
<p>Seorang penulis buku indie yang pernah banyak membagi ilmunya pada suatu kesempatan diskusi buku adalah Kirana Kejora. Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti itu. Namun, teman-temannya inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan <em>launching</em>buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.</p>
<p>Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya bisa terdistribusi lebih luas.</p>
<p>Kirana juga menyampaikan gambaran soal keuntungan penerbitan buku indie. Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia melakukan <em>direct selling</em>, sama sekali tak menggunakan jasa distributor yang memasok buku-buku itu ke toko-toko buku.</p>
<p>Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah (dicetak secara offset). Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah (dicetak secara Print on Demand, atau PoD). Harga cetak per buku dengan cara PoD sampai menembus angka Rp26.000, sementara bila buku itu dicetak sebanyak 500 buah, harga cetaknya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.</p>
<p>Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Penulis harus giat berpromosi lewat segala cara. Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.</p>
<p>Saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.</p>
<p>Pada masa kini juga banyak situs yang menyediakan layanan penerbitan buku indie. Bila Anda berkunjung ke situs <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.dapurbuku.com&amp;h=_AQGNFSFq&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow">www.dapurbuku.com</a>, <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.bukuindie.com&amp;h=9AQEPaRCU&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow">www.bukuindie.com</a>, atau <a href="http://www.nulisbuku.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.nulisbuku.com</a>, di sana bisa dipelajari berbagai langkah yang bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk menerbitkan dan memasarkan bukunya.</p>
<p><strong>Penerbitan Kerjasama, Indie dan Konvensional</strong></p>
<p>Hingga kini, saya bersyukur bisa bertemu dengan Pak Agus Wijaya, seorang dosen di Universitas Surabaya (Ubaya). Dalam pertemuan kami dia menceritakan tentang usaha penerbitan yang tengah dirintisnya, bernama Brilian Internasional (<a href="http://www.brilian-internasional.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.brilian-internasional.com</a>). Buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit ini kebanyakan buku teks atau materi pendukung kuliah yang ditulis oleh dosen. Tapi, pada intinya, penerbit ini terbuka untuk menerbitkan berbagai jenis buku.</p>
<p>Dari pembicaraan dengan Pak Agus saya mendapatkan wawasan tentang cara ketiga ini. Cara ketiga ini saya sebut sebagai indie dan konvensional karena penulis ikut memiliki peran yang besar dalam penerbitan bukunya, begitu juga penerbit. Mari menyimaknya.</p>
<p>Hal yang unik dari cara ketiga ini adalah penulis ikut menanggung biaya cetak buku, memiliki kesempatan untuk menjual bukunya sendiri, tapi bukunya juga dipasarkan di toko-toko buku sehingga tetap mendapatkan royalti. Pertanyaannya, bagaimana perhitungan tanggungan biaya cetak, harga jual buku, dan royalti?</p>
<p>Semuanya diawali dari penentuan harga jual buku. Katakanlah, sebuah buku akan dijual dengan harga Rp50.000. Buku ini nantinya akan dicetak 1300 eksemplar: 1000 dipasarkan di toko buku, 300 diberikan kepada penulis. Nah, biaya yang ditanggung penulis adalah 60 persen dari 300 buku yang diterimanya (300 x Rp50.000 x 0,6), yaitu Rp9.000.000.</p>
<p>Nah, bila penulis berhasil menjual 300 buku yang menjadi jatahnya, ia sudah mendapat uang Rp15.000.000 (300 x Rp50.000). Ini berarti penulis sudah mendapatkan keuntungan Rp6.000.000 dari biaya awal yang ditanggungnya (Rp.15.000.000 &#8211; Rp9.000.000). Dan, keuntungan itu masih ditambah dengan royalti dari buku yang berhasil dipasarkan oleh pihak penerbit &#8212; yang jumlahnya 1000 buah tadi.</p>
<p>Saya rasa cara penerbitan yang ketiga ini cukup menarik untuk dicoba, terutama bila penulis sudah memiliki pasar tersendiri bagi bukunya, seperti para pembicara seminar, dosen, guru, dan lain sebagainya. Saya menduga, banyak penerbit yang terbuka untuk untuk kerjasama-kerjasama seperti ini, hanya saja saya belum mengetahuinya.</p>
<p>***</p>
<p>Demikianlah, sedikit pembahasan tentang tiga cara menerbitkan buku. Persoalan utama dalam dunia penerbitan yaitu penulis ingin mendapat pengakuan lewat karyanya yang ditulis dan diterbitkan, sementara penerbit tidak mau merugi dengan menerbitkan karya-karya yang tidak laku dijual. Tidak sedikit orang yang ingin menjadi penulis, maka penerbit pun makin selektif menerbitkan naskah.</p>
<p>Pembahasan singkat ini mungkin akan memperluas wacana Anda tentang berbagai kemungkinan penerbitan buku. Mungkin Anda akan berpikir: ternyata, menerbitkan buku itu mudah. Sebagai (calon) penulis, yang perlu dipikirkan adalah manfaat dan kualitas tulisan Anda bagi pembaca. Tidak semua tulisan bermanfaat, tidak semua hal perlu ditulis, dan tidak semua buku perlu dibaca. &#8220;Begitu kita sudah memahami tata bahasa, menulis itu tidak lain adalah berbicara di atas kertas dan, seiring dengan berjalannya waktu, belajar tentang apa yang tidak perlu kita katakan,&#8221; kata Beryl Bainbridge. (*)</p>
<p>Pontianak, 16-17 Januari 2013</p>
<p>*) Penulis lepas, guru SMA St. Petrus Pontianak</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/729/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Bikin Perpustakaan Pribadi</title>
		<link>http://bukuindie.com/yuk-bikin-perpustakaan-pribadi/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/yuk-bikin-perpustakaan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2013 07:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Anda hobi membaca? Jika ya, mengoleksi buku pasti menjadi hobi Anda juga. Berburu buku di berbagai pameran atau toko buku bisa menjadi acara menarik bagi Anda. Setelah membeli, tentu Anda juga ingin memajang buku-buku koleksi yang telah dibaca. Sebuah perpustakaan &#8230; <a href="http://bukuindie.com/yuk-bikin-perpustakaan-pribadi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/04/20081028-zoinks-books.jpg" width="240" />
		</p>
<p>Anda hobi membaca? Jika ya, mengoleksi buku pasti menjadi hobi Anda juga. Berburu buku di berbagai pameran atau toko buku bisa menjadi acara menarik bagi Anda.</p>
<p>Setelah membeli, tentu Anda juga ingin memajang buku-buku koleksi yang telah dibaca. Sebuah perpustakaan pribadi tentu akan menjadi ide menarik. Ruangan ini sekaligus bisa menjadi tempat favorit Anda.</p>
<p>Namun, sering kali perpustakaan pribadi dibayangkan sebagai ruangan yang luas, mampu menampung banyak koleksi buku, dan mempunyai tempat membaca dengan suasana serba elegan. Padahal, sebenarnya, tidak harus selalu seperti itu. Anda pun bisa membuat perpustakaan pribadi sendiri yang sederhana.</p>
<p>Perpustakaan tidak selalu harus dibuat dengan ruangan khusus. Hanya dengan sekat ataupun dinding rendah, Anda bisa memiliki ruangan perpustakaan. Dengan konsep terbuka ini, Anda justru tidak akan merasa terkurung di dalam ruangan.</p>
<p>Perhatikan ventilasi udara, penerangan ruangan, dan pengaturan letak rak buku. Penerangan lebih baik sedikit terbuka agar sinar matahari bisa masuk. Jadi, selain bisa menghemat listrik, ruangan Anda akan lebih sehat.</p>
<p>Akan tetapi, usahakan udara di dalamnya tidak panas dengan menjaga kelembaban. Apabila penerangan menggunakan lampu, sebaiknya tempatkan di belakang Anda saat membaca agar mata tidak menjadi silau dan lelah.</p>
<p>Tempatkan lampu di lokasi yang membuat ruangan menjadi luas dan nyaman. Ada baiknya lampu yang digunakan adalah lampu neon, bukan lampu pijar untuk menghindari pantulan cahaya pada kertas yang dapat memicu kelelahan mata.</p>
<p>Penataan rak buku juga dapat diatur menempel pada dinding dengan kerapatan yang cukup. Hal ini supaya udara dapat mengalir di celah antara rak dan dinding. Fungsinya, agar sirkulasi udara itu dapat mengurangi kemungkinan kelembaban, bau apek, dan sarang serangga di buku. Celah tersebut juga mempermudah merawat, membersihkan koleksi dari debu, serta mengurangi udara lembab yang dapat merusak buku.</p>
<p>Memberi pendingin ruangan atau AC memang pilihan yang baik bagi buku agar terjaga kelembabannya. Akan tetapi, jika merasa akan memberatkan tagihan listrik, Anda bisa juga menempatkan beberapa pot bunga atau tanaman hias yang tidak terlalu besar.</p>
<p>Pot dalam perpustakaan? Kenapa tidak. Anda cukup hanya menyesuaikan ukurannya dengan komposisi ruangan. Pilihlah tanaman yang mudah dirawat dan tidak mudah rontok. Fungsi tanaman ini memberi nuansa alami, melembutkan kesan kaku dan serius dari koleksi buku Anda, serta membantu pertukaran udara di dalam ruangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sumber: Portal properti.kompas.com, 15 Februari 2012, “Ide Simpel Membuat Perpustakaan Kesayangan”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/yuk-bikin-perpustakaan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sayembara essai sastra boemipoetra</title>
		<link>http://bukuindie.com/sayembara-essai-sastra-boemipoetra/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/sayembara-essai-sastra-boemipoetra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2012 09:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; djoernal sastra terpenting boemipoetra mengadaken lomba penoelisan essai boekoe djoernal sastra boemipoetra terboeka oentoek oemoem. ketentoean: 1- naskah diketik 1,5 spasi. jenis font times newroman. minimal 6.000 karakter. halaman letter. 2- itoe naskah dikirim paling lambat 30 april &#8230; <a href="http://bukuindie.com/sayembara-essai-sastra-boemipoetra/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/12/bp1.jpg" width="240" />
		</p>
<p><img class="wp-image-695 aligncenter" title="bp" src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/12/bp3.jpg" alt="" width="489" height="692" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>djoernal sastra terpenting boemipoetra mengadaken lomba penoelisan essai boekoe djoernal sastra boemipoetra terboeka oentoek oemoem.</p>
<p><strong>ketentoean:</strong></p>
<p>1- naskah diketik 1,5 spasi. jenis font times newroman. minimal 6.000 karakter. halaman letter.</p>
<p>2- itoe naskah dikirim paling lambat 30 april 2013 ke email: ruangplus@gmail.com</p>
<p>3- 50 essai pilihan akan diboekoeken dan 50 peserta essai pilihan akan mendapatken itoe boekoe essai boekoe djoernal sastra boemipoetra. 5 (lima) essai terbaik akan mendapatken oeang masing-masing Rp1.000.000 ditambah piagam.</p>
<p>4- panitia berhak mempoeblikasiken 50 essai pilihan.</p>
<p>oentoek mendapatken itoe boekoe djoernal sastra boemipoetra hoeboengi :</p>
<p>- gito waluyo 08567870711</p>
<p>- saut situmorang 0816683770</p>
<p>- kusprihyanto namma 085790217124</p>
<p>- irwan bajang 081927595022</p>
<p>- iwan gunadi 081286078246</p>
<p>ataoe kundjungi alamat ini: http://bukuindie.com/book/buku-edisi-5-tahun-jurnal-sastra-boemipoetra/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/sayembara-essai-sastra-boemipoetra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merchandise IBC Kaos #MenulisItuMenumbuhkan</title>
		<link>http://bukuindie.com/merchandise-ibc-kaos-menulisitumenumbuhkan/</link>
		<comments>http://bukuindie.com/merchandise-ibc-kaos-menulisitumenumbuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2012 10:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indie Book Corner</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Merchandise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuindie.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Halo, Teman-teman. Indie Book Corner bikin kaos lagi lho. Kali ini kami mengusung desain dengan tema #MenulisItuMenumbuhkan. Bahan Kaos: Cotton Combed 30. Ukuran S, M, L, XL, dan XXL. Harga Rp 80.000 (belum termasuk ongkos kirim). Untuk ukuran XXL &#8230; <a href="http://bukuindie.com/merchandise-ibc-kaos-menulisitumenumbuhkan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/09/kaos-baru-B1.jpg" width="240" />
		</p>
<p><a href="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/09/kaos-baru-B.jpg"><img class="size-medium wp-image-489 aligncenter" title="kaos baru IBC" src="http://bukuindie.com/wp-content/uploads/2012/09/kaos-baru-B-255x300.jpg" alt="" width="255" height="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Halo, Teman-teman. Indie Book Corner bikin kaos lagi lho. Kali ini kami mengusung desain dengan tema #MenulisItuMenumbuhkan.</p>
<p>Bahan Kaos: Cotton Combed 30.</p>
<p>Ukuran S, M, L, XL, dan XXL.</p>
<p>Harga Rp 80.000 (belum termasuk ongkos kirim).</p>
<p>Untuk ukuran XXL atau lengan panjang tambah Rp 5.000.</p>
<p>Sistem pembelian pre-order.</p>
<p>Pemesanan dan pembayaran paling lambat pada tanggal 30 September 2012.</p>
<p>Lama produksi sekitar 12 hari.</p>
<p>Pemesanan bisa dilakukan melalui akun Twitter <a href="http://twitter.com/indiebookcorner" target="_blank">@indiebookcorner</a> dan <a href="http://www.facebook.com/indiebook.corner" target="_blank">Facebook</a> kami.</p>
<p>Bisa juga menghubungi kami di (0274) &#8211; 9207841.</p>
<p>Pembayaran bisa melalui Rekening Mandiri 1360005137622 a.n Anne Shakka Ariyani.</p>
<p>Jadi, ayo segera dipesan! <img src='http://bukuindie.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuindie.com/merchandise-ibc-kaos-menulisitumenumbuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
